SISI LAIN

FOR THE LOVE OF KIKI, KOKO & KIKO

Suatu siang yang aku lupa itu hari apa dan pasaran/wetonnya apa, kutemukan dua ekor kucing kecil yang lucu dan imut2 didepan kamar/asrama tepat dibawah tempat duduk cor-beton. Sepertinya dua kucing kecil itu baru menghirup hawa dunia, namun ditelantarkan induknya (dasar induk tak bertanggung jawab). Mulanya tidak ada niat untuk merawatnya, takut nanti suatu saat akan tidak terurus karena kesibukan kerja. Namun, akhirnya naluri sebagai warga negara yang baik mendorongku untuk berbagi ayam bakar dengan kedua kucing imut itu. Menyenangkan juga, dua kucing kecil itu jinak dan nurut. Kuberi nama Kiki dan Koko.

Setiap mau berangkat kerja, keduanya seperti mau ikut mengantarkan, sampai digerbang asrama lalu kembali lagi kedalam. Begitu juga kalau mengetahui tuannya datang, dua kucing itu segera berlari menjemput, meang-meong minta makan. Kemanapun aku pergi, entah ke kamar sebelah, nongkrong di pos security, maen ke tempat fitness, studio ato selama di lingkungan asrama, dua kucing imut itu setia menemani ato menunggui.

Kadang-kadang saat istirahat makan dikantin perusahaan, aku yang waktu itu masih gondrong menyeramkan tidak malu untuk membungkus jatah lauk daging maupun ikan untuk dibungkus dibawa pulang untuk kucing-kucing itu. Karena kebetulan juga aku mulai mengurangi makanan yang mengandung daging (vegetarian n takut gemuk-red). Aku tidak malu juga untuk belanja ikan laut di pasar pujasera meski banyak mbak-mbak dari tetangga sebelah yang menggoda.

Seolah aku menemukan teman untuk sekedar berbagi rasa. Pulang kerja, biasanya aku duduk2 dibelakang rumah sambil maen gitar. Lalu dengan nakal Kiki naik kepangkuanku. Koko juga tak ketinggalan, berebut tempat dipangkuan yang akhirnya aku tidak jadi maen gitar. Asyiklah pokoke maen2 ama Kiki dan Koko.

Temenku si Ahmad dikamar ujung juga punya seekor kucing. Aku lupa namanya. Anehnya Kiki dan Koko serta kucingnya Ahmad itu bisa rukun. (kucing aja bisa rukun, masak kita hidup berbangsa dan bernegara tidak bisa rukun ??).

Hari-hari banyak terlewatkan bersama Kiki dan Koko. Kalo perasaan lagi jenuh ato stress karena beban kerja, Kiki dan Koko selalu menghibur. Aku juga rajin memandikannya.

Pagi itu, aku sedang terburu-buru mau berangkat kerja karena bangun agak telat. Kiki dan Koko merengek minta sarapan. Kupikir mereka ga usah sarapan dulu hari ini karena aku bisa terlambat nanti. Tidak seperti biasanya mereka tidak mau mengantarkan aku sampai gerbang. Mereka tidak beranjak dan hanya merengek didepan pintu kamar ditemani kucingnya si Ahmad. Aneh rasanya, namun aku sedang terburu2 takut tertinggal jemputan.

Sorenya ketika pulang kerja, Mas Parno (Security yang jaga waktu itu) bilang tadi ada razia kucing liar, banyak kucing yang tertangkap. Diperkuat dengan kesaksian dari tukang sayur bahwa tadi siang jam 14.00 memang ada razia kucing. Deg…aku segera pulang. Tak kudapati Kiki dan Koko dirumah. Aku mengelilingi komplek asrama. Nihil. Jangan-jangan Kiki dan Koko tertangkap juga, sebab sama siapa saja Kiki dan Koko nurut. Aku bergegas mencari Ahmad. Benar juga, kucingnya Ahmad juga tidak kelihatan, sepertinya bernasib sama. Kucari informasi kira-kira dimana tempat pembuangan kucing. Kucari kesana (tanjung Piayu) dari abis ashar sampe mau isya namun tidak ketemu juga. Aku jadi tidak tenang. Sebab Kiki dan Koko maupun kucingnya Ahmad tidak terbiasa mencari makan sendiri. Jelas mereka akan kesulitan nantinya. Beberapa hari kemudian, operatorku bilang pernah melihat kucing yang ciri2nya persis dengan Kiki di dekat Power House. Setengah jam aku mengobrak-abrik tempat itu tapi ga ketemu juga.

Yach…mungkin sudah takdir, jodohku ma Kiki dan Koko hanya sampai disitu. Aku teringat. Sebelum hari naas itu, aku bermimpi Kiki dan Koko dalam keadaan basah kuyub mendatangi aku. Itukah pertandanya ?? kenapa aku tidak peka ???

Si Ahmad sempat meriang karenanya. Kasian si Ahmad.

Hari berganti hari. Minggu demi minggu terus berlalu.

Suatu siang, aku seperti mendengar suara kucing kecil meang-meong didepan kamar. Ketika kubuka, seekor kucing kecil sedang merengek seolah memohon sesuatu padaku. Kuberi dia makan. Kupikir ini mungkin pengganti kiki dan Koko. Akhirnya kurawat dia dan kuberi nama Kiko. Kudidik dia sama seperti saat mendidik Kiki dan Koko. Tugas mengantar dan menjemputku di gerbang, menemani nongkrong di pos dll digantikan oleh Kiko.

Suatu ketika pas nongkrong di pos, batere HP mau habis. Lalu aku ke studio musik untuk nge-cas karena kebetulan aku bawa kunci studio. Eh….”ibu negara” yang ca’em keibuan ternyata sedang duduk sendirian di depan studio. Si Kiko ngikut saja masuk ke studio. HP ku tinggal di studio, kulihat ”ibu negara” masih duduk di depan studio. Aku keluar menemuinya. Kiko masih didalam. Setelah sedikit berbasa-basi, aku pamit untuk menutup studio. ”Kiko…ayo keluar dulu. Sini..salim (cium tangan-red) dulu ma tante ”, teriakku dari luar. Hikz…Kiko sepertinya paham maksudku. Lalu dia keluar dari dalam studio dan duduk tepat didepan “ibu negara” dan meang-meong. “Lho Mas..kok bisa kucing ini nurut ? “ kata ibu negara merasa kagum. Aku senyam-senyum saja.

Jodohku ma Kiko tidak lama. Ia bernasib sama, terkena razia kucing. Mungkin salahku juga tidak memberinya tanda kalung ato yang lain. Seharusnya, pak petugas bisa membedakan mana kucing liar dan yang bukan. Sebab kucing-kucing yang bersih dan gemuk tentu saja bukan kucing liar dan ada yang merawat.

Namun, apa boleh buat…takdir telah memisahkan..hikz……For Love of Kiki, Koko dan Kiko …

Kangen, 14 April 2008

ANTARA BUAH NANGKA DAN SEBUNGKUS BUBUR

Hari itu aku sedang libur tidak ada kegiatan. Meski baru saja sarapan tapi perut rasanya masih terasa belum kenyang. “Dasar perut bagor (karung-red)”, kata anak-anak Dargom dulu. Terlintas keinginan untuk membeli bubur sum-sum. Didekat pasar pagi biasanya ada yang jualan bubur itu. Dengan tambahan kolak pisang dan nangka sebagai kuahnya.
Tak ada lima menit aku meluncur ke warung bubur itu. Tak begitu ramai. Hanya dua abang becak yang sedang sarapan nasi pecel sambil ngopi. Saat menunggu bubur yang sedang dibungkus, seorang wanita tua berpakaian sederhana datang menemui ibu penjual bubur tersebut. Wanita tua itu membawa buah nangka yang besarnya tak lebih dari seperempat bola basket. Dilihat dari percakapannya, ternyata wanita tua itu sedang menawarkan bauh nangka tersebut. Kata sepakat tercapai. Buah nangka itu dihargai Rp. 750,-. Aku tidak tahu persis berapa harga pasaran buah nangka. Namun aku beranggapan harga itu terlalu murah. Sebenarnya bukan hanya masalah itu yang membuat aku jadi langsung berfikir. Aneh rasanya bila seseorang hanya menjual buah nangka yang tidak utuh ? kenapa wanita tua itu tidak menjualnya secara utuh ?. Batinku terusik. Penasaran dan ingin sekali mengikuti wanita tua tersebut. Setelah membayar sebungkus bubur itu, aku segera mengikuti kemana wanita tua itu pergi. Ternyata wanita tua itu berhenti di kios kecil tak jauh dari warung tempat aku membeli bubur tadi. Ya Alloh…ternyata uang hasil penjualan seperempat buah nangka tadi dibelikan beras. Hatiku terasa teriris. Pedih sekali. Tentu anda bisa membayangkan. Uang yang hanya Rp.750 tadi bila dibelikan beras dapat berapa kilo ?. tentu saja tidak sampai satu kilo.
Setelah menerima bungkusan kecil yang berisi sedikit beras dari pemilik kios, wanita tua itu beranjak pergi. Aku tidak lagi mengikutinya dan segera pulang.
Sesampainya dirumah, bubur yang tadi kubeli tidak segera kumakan. Aku masih terngiang kejadian barusan. Begitu memukul hatiku. Ironis. Sementara aku hanya memikirkan bubur, sementara dilain pihak ada yang kebingungan perut belum terisi. Padahal harga sebungkus nasi pecel saat itu Rp. 2000. Kalo Rp 750,- dapat apa ??. Aku selalu berdoa, semoga Alloh Yang Maha Pengasih selalu memberikan kita dan keluarga kita rejeki & tambahan rejeki yang cukup, Amin.
Semoga kita selalu lebih meningkatkan rasa syukur kita.

Oleh : Ardi Sanjaya / Feb 2008

SAKIT MAAG

Sakit maag ? Bagi sebagian orang termasuk saya mengalaminya. Betapa merepotkan dan mengganggu sekali. Terlebih ketika dokter menyarankan untuk menghindari beberapa jenis menu makanan yang terkadang menjadi favorit kita.
Dulu ketika belum menderita penyakit maag, pola makan saya sangat tidak teratur. Lama kelamaan lambung saya protes. Akhirnya ganjaran penyakit maag itu saya terima juga.
Pada tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana cara menghilangkan maag karena artikel semacam itu tentu sudah terlalu banyak. Namun, saya akan menunjukkan salah satu sisi baik ketika kita memiliki sakit maag. Bukannya pamer ato apa..yach sekedar berbagi cerita dan pengalaman.
Mulanya saya kurang nyaman juga karena harus makan tepat waktu dan tidak boleh sembarangan. Dulu temen saya sering ngajak mbaso (makan baso-red) kalo abis ashar. Awalnya saya turuti saja. Sehingga tiba saat makan malam saya jadi ga nafsu karena masih kenyang. Akibatnya maag kambuh…lambung terasa terkoyak. Duh..repot juga. Semenjak itu saya terpaksa harus disiplin mengatur jam makan. Kalo temen ngajak mbaso lagi, saya cukup ngemil saja.
Lama kelamaan saya mikir. Ada suatu perubahan pada diri saya ketika saya membiasakan diri untuk makan tepat waktu. Meski secara umum saya sudah menjadwal kegiatan2 saya, namun rasanya lain. Saya juga terbiasa mengerjakan segala sesuatunya diawal waktu. Bahkan sampai hal-hal kecil yang sifatnya sepele lebih baik saya segera selesaikan. Takut mengganggu jadwal makan saya he3x…Alhamdulillah berefek pada semuanya. Semua terasa menyenangkan ketika bisa dilakukan diawal waktu.
Seperti nasehat dari mbah-mbah kita, janganlah memandang suatu musibah/sakit dll dari sisi buruknya, tapi lihatlah juga sisi baik/hikmahnya. Saya tidak jadi menyesal memiliki sakit maag. Itulah salah satu Kebesaran Illahi.
Hmm…itu baru sakit maag, kalo yang lain ?

Oleh : Ardi Sanjaya/12/02/2008

PEJALAN KAKIPUN DIHORMATI

nyeberang-jalan.jpg

Ketika saya berhenti saat lampu merah di suatu persimpangan, beberapa orang nekat menerobos. Tentu saja beberapa penyeberang jalan tidak bisa merasa nyaman bahkan mungkin terancam. Mengilhami saya untuk menuliskan sebuah pengalaman.
Beberapa tahun lalu ketika saya sedang makan siang di salah satu pujasera di daerah Bugis, seseorang kira-kira setengah baya mengajak saya ngobrol. “Are you Philipin ?” tanyanya. “No sir, I’m Indonesian”. Kemudian dia bercerita (kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) dia pernah maen ke Indonesia (Batam). Salah satu yang dia kurang sukai adalah tidak disiplinnya pada antrian. Entah itu di pelabuhan ataupun mendapatkan taxi. Selain itu masalah keamanan juga ia ceritakan. Pokoknya dia membanggakan negaranyalahJ. Dalam hati saya sendiri sempat minder, “ kapan ya negara kita bisa seperti singapura ?” .
Disiplin dan teratur. Itulah kesan yang pas untuk Singapura. Masyarakat Singapura terkenal sangat disiplin pada peraturan. Untuk transportasi, kebanyakan dari mereka lebih memilih naik bus maupun kereta (MRT). Satu lagi kesan, bersih. Hampir dipastikan tidak ada puntung rokok maupun sampah kecil pada bus atau MRT. Jarang sekali sopir bus membunyikan klakson. Tidak ada kebut-kebutan dan semua patuh pada traffic light. Bahkan suatu waktu ketika saya sedang berjalan dan akan menyeberangi sebuah gang kecil, mobil sedan yang melaju pelan dari dalam gang berhenti pada jarak dua meter dari saya. Padahal saya kondisinya akan menyeberang. Dari dalam mobil saya lihat sopir tersebut memberikan isyarat agar saya menyeberang. Sungguh indah….pejalan kakipun dihormati. Lha kalo di negara kita ? :) .
Terus terang saya mulai menyukai kondisi seperti itu. Kalau ada receh sisa bulan kemarin kadang saya gunakan untuk sekedar cuci mata dan menghilangkan kejenuhan bekerja ataupun sekedar hunting foto. Ketika seorang tenaga kerja asing (vendor) yang sering ke tempat kerja saya di Batam (dulu) memberikan sejumlah tips dan referensi “Bagaimana hidup dan survive” di Singapura, saya jadi kebayang-bayang. Namun, saya harus berfikir 1000x karena yang jelas disana tidak ada nasi pecel he3x…..
Meski jarak Batam – Singapura hanya 45 menit lewat laut, namun mungkin butuh bertahun-tahun agar budaya disiplin benar-benar mendarah daging di Indonesia. Ato mungkin puluhan tahun yach? :) . Mari..bermula dari diri sendiri untuk disiplin (leaded by example) . Saya cinta Indonesia.

Oleh : Ardi Sanjaya / 15 Januari 2007


MENJAGA TITIPAN

nyeker.jpg

Musyawarah yang mulai ditinggalkan
Semangat gotong royong yang mulai menghilang
Santun terhadap sesama yang mulai langka
Budaya luar yang perlahan mengubah tata nilai bangsa
Hedonis, konsumeristis, materialistis….
Hilangnya rasa malu
Tindakan anarki


Perlahan-lahan telah menanamkan karakter yang kurang baik bagi mereka

Mereka adalah calon pemimpin kita kelak
Masihkah kita berharap
mereka nantinya memimpin negeri ini dengan baik ???

Oleh : Ardi Sanjaya / 15 Januari 2007 / dari Materi Wawasan Kebangsaan

2 Responses

  1. ms Ders, keren banget blog-nya…

    aq paling suka posting-an “ANTARA BUAH NANGKA DAN SEBUNGKUS BUBUR” dan “FOR THE LOVE OF KIKI, KOKO & KIKO”….

    bikin terharu….suerrr….

    sukses ya bro…
    ditunggu posting2an lainnya yg lbh keren….

  2. Hikz.. jarang update.. ga sempat benah2:)

Leave a Reply